Rabu, 11 Mei 2011

Mendiknas, “Program Bidik Misi untuk Memutus Mata Rantai Kemiskinan”


[Unpad.ac.id, 28/02/2011] Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA melakukan dialog dengan 150 mahasiswa, perwakilan penerima program Bidik Misi di Unpad. Acara ini digelar di Ruang Serba Guna, Lantai 4, Gedung 2, Unpad, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, Senin (28/02). Turut hadir pada acara ini Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementrian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Prof. Dr. Djoko Santoso, Rektor ITB Prof. Akhmaloka, Rektor UPI Prof. Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd.,  dan Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia beserta jajarannya.
Mendiknas saat berbincang dengan para penerima dana program Bidik Misi di Kampus Unpad (Foto: Tedi Yusup)*
“Pendidikan itu dapat diibaratkan sebagai mesin elevator, atau lift sosial yang paling besar. Bisa dibayangkan, bila seseorang itu mau naik ke lantai 7, kalau ia tidak punya lift, pasti susah dan bisa jadi tidak akan sampai,” ujar M. Nuh saat mengungkapkan betapa pentingnya pendidikan.
Untuk itu, sangat disayangkan apabila ada seseorang yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya karena keterbatasan ekonomi. Melalui program Bidik Misi, pemerintah ingin membantu masyarakat tidak mampu agar bisa kuliah di perguruan tinggi negeri di Indonesia.
Program yang mulai dicanangkan pada tahun 2010 ini sudah membantu biaya pendidikan sekira 20.000 mahasiswa di Indonesia. Di Unpad, ada 500 mahasiswa yang terbantu berkat adanya program ini. “Tahun ini paling tidak akan ada bantuan untuk 20.000 mahasiswa lagi, tapi diharapkan bisa lebih dari itu, hingga 30.000,” ungkap M. Nuh.
M. Nuh memaparkan bahwa program bidik misi datang untuk memutus mata rantai kemiskinan di Indonesia. Program bisik misi datang untuk memberi akses agar masyarakat tidak mampu dapat meraih cita-cita setinggi mungkin.
Ia juga mengungkapkan bahwa keterbatasan ekonomi bukan untuk disesali. “Tidak apa-apa sekarang tidak punya, tapi yang penting ada ikhtiar untuk berubah. Tidak boleh kita merasa rendah diri. Kita harus punya self confidence yang tinggi,” ujar M. Nuh memberi motivasi pada ratusan mahasiswa yang hadir.
Pada kesempatan tersebut, M. Nuh juga mengajak beberapa mahasiswa yang hadir untuk menceritakan tentang pribadi masing-masing. Wulan misalnya. Mahasiswi Fakultas Kedokteran (FK) Unpad ini mengungkapkan bahwa sebelumnya ia tidak berniat untuk kuliah karena keterbatasan ekonomi.
“Saya sangat bersyukur dengan adanya program ini, karena sebelumnya saya tidak berniat untuk kuliah. Sekarang saya senang sekali dapat diterima di FK Unpad,” ungkap putri kedua dari empat bersaudara ini.
M. Nuh pun menanggapi cerita Wulan. “Ada isu yang berkembang di masyarakat bahwa orang miskin tidak bisa menjadi dokter. Sekarang kita balik fakta itu. Semua orang bisa jadi dokter, asal punya kemampuan akademik yang bagus,” ujarnya.
Ia kemudian memberikan tips, bagaimana caranya agar seseorang bisa sukses. Kunci utamanya adalah dengan berbakti kepada orang tua. Ia juga mengkisahkan tentang seorang pemuda yang meraih kesuksesan. Ternyata, rahasia sukses pemuda tersebut adalah karena ia selalu berbakti kepada orang tuanya.
Rektor Unpad, Prof. Ganjar mengajak semua yang hadir untuk terus bersyukur, karena tidak semua orang punya kesempatan seperti ini. “Oleh karena itu wujud syukur yang paling baik adalah dengan belajar sebaik-baiknya dan patuh kepada orang tua,” tuturnya.
Pada kesempatan tersebut, Prof. Ganjar juga memaparkan prestasi menggembirakan dari para penerima Bidik Misi setelah menyelesaikan pendidikan di semester pertama, walaupun ada beberapa yang perlu dievaluasi dari sisi prestasi akademik. Data menunjukkan mahasiswa yang meraih Indeks Prestasi (IP) antara 3,00 s.d 4,00 sebanyak 305 orang (62,76%), peraih IP antara 2,00 s.d. 2,99 sebanyak 164 orang (33,74%), dan masih ada 17 orang (3,5%) dengan IP di bawah 2,00. (Kabim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar